NEWS

Monday, 22 February 2021

Nurul Falah, Masjid yang Berusia 2 Abad Menjadi Saksi Sejarah Masuknya Agama Islam di Kabupaten Maros

Setelah hampir dua abad, sebuah masjid di Maros, Sulawesi Selatan, masih tetap kokoh berdiri dan menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Kabupaten yang kini berpenduduk 399 ribu jiwa. Dulunya, masjid itu merupakan lambang kejayaan kerajaan Marusu yang menjadi cikal bakal nama Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Makassar ini.

Oleh seorang raja Marusu, Masjid yang dulunya hanya langgar itu diberi nama dengan Masjid Nurul Falah atau cahaya kemenangan. Lokasinya hanya beberapa meter dari istana kerajaan Marusu yang dikenal dengan nama Balla Lompoa di Kelurahan Baju Bodoa, Kecamatan Maros Baru, Maros, Sulawesi Selatan.

Keterangan Gambar : Masjid Nurul Falah, masjid tertua yang didirikan sejak tahun 1821 

Karena sudah tidak mampu lagi menampung jemaah yang setiap tahunnya bertambah, Masjid ini pun dipugar hingga tiga kali seperti bentuknya yang sekarang. Namun, meski telah mengalami perubahan, ornamen dan arsitekturnya masih tetap mengacu para Masjid kebanyakan di Makassar yang kubahnya berbentuk persegi empat lancip.

Raja Marusu ke-24 Abdul Haris Karaeng Sioja mengatakan, Sejak didirikan tahun 1821, masjid ini sudah tiga kali mengalami perubahan. Namun pengelola tetap mempertahankan arsitektur aslinya seperti kubah dan atap depan yang bersusun tiga seperti istana raja. Satu-satunya bangunan asli di Masjid ini adalah gerbang di pagar.

Saat masih menjadi Langgar, masjid ini berlokasi di pinggiran sungai Maros. Saat lokasi istana kerajaan Marusu dipindahkan, langgar ini katanya juga ikut dipindahkan dan menjadi sebuah Masjid pertama di kerjaan Marusu kala itu.

Satu hal yang masih terjaga hingga saat ini adalah Masjid ini menjadi tempat bermusyawarah. Dulu, raja-raja selalu bermusyawarah dengan rakyatnya di Masjid ini terkait hal-hal penting. Hingga saat ini Pemerintah setempat masih sering membuat agenda musyawarah di sini.

Seperti pada masjid-masjid tua lainnya, di belakang Masjid Nurul Falah ini terdapat kompleks pemakaman raja Marusu dan keluarganya. Ada dua raja Marusu yang dimakamkan di belakang Masjid, yakni Raja Marusu ke 17 dan 18. Makam inipun masih sering diziarahi oleh keturunan keluarga raja dan masuk dalam situs cagar budaya.

Bagi kerajaan Marusu, masjid tidak hanya menjadi tempat untuk beribadah sejak dahulu, namun juga menjadi tempat bermusyawarah untuk membicarakan hal-hal penting menyangkut hajat rakyat. Tradisi inipun masih tetap berlaku hingga saat ini. Selain itu, masjid inipun menjadi tempat pusat kegiatan Islam, mulai dari kajian hingga pembelajaran agama bagi remaja dan anak-anak.

Keberadaan Masjid ini, tidak terlepas dari keberadaan istana kerajaan Marusu . Dari beberapa literatur kuno, Kerajaan Marusu berdiri sekitar abad 15 oleh seorang raja pertama bernama Karaeng Loe ri Pakere yang dipercaya sebagai tumanurung atau orang yang turun dari langit. Kala itu, Islam baru mulai dibawa oleh para pedagang dari Melayu. Diperkirakan, Islam mulai masuk di wilayah kerajaan Marusu sekitar tahun 1596, saat Raja Marusu ke tiga yang sekaligus menjabat sebagai tu mailalalng atau menteri dalam negeri Kerajaan Gowa.

Meski begitu, dalam catatan raja Bone ke-22 yang memerintah antara tahun 1752 hingga 1762, kerajaan Bone sebelumnya sudah pernah memdirikan sebuah langgar di Marampesu yang saat ini berada di wilayah Kelurahan Boribellaya, Kecamatan Turikale, Maros. Sayangnya, masjid itu sudah tidak ada lagi. Disebutkan pula, pada tahun 1756 raja Bone menggelar salat Idul Adha di langgar yang kemudian ia bangun menjadi masjid.

Salah seorang penggiat Budaya Maros, Andi Muhammad Riza AB Berbicara sejarah masuknya Islam di Maros ini, sebelum di Kerajaan Marusu, raja Bone sudah pernah membuat langgar di Marampesu yang pernah menjadi pusat pemerintahan raja Bone. Saat era ekspansi kerajaan Gowa kepada kerajaan lain di Sulsel, Marampesu ini kemudian direbut

Menurut sejarah Islam di Maros memang tidak terlepas dari masuknya Islam di kerajaan Tallo yang kemudian secara kelembagaan membuat kerajaan Gowa berubah bentuk menjadi kesultanan pada abad ke 16 silam. Kesultanan Gowa yang merupakan kerajaan besar di Sulsel, lalu menyebar luaskan Islam ke semua kerajaan lain, termasuk kerajaan Marusu dan kerajaan Bone.

Masuknya Islam di Sulawesi Selatan, tidak terlepas dari peran para ulama dari Minangkabau yakni Datuk Sri Bandang, Datuk Patimang dan Datuk di Tiro. Ketiga orang ini pertama kalinya berhasil meng-Islamkan raja Luwu, La Patiware Daeng Parabu yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Muhammad Mahyuddin pada awal tahun 1605. Di tahun yang sama, Raja Tallo, Imalingkaan Daeng Manyonri Karaeng Katangka dan Raja Gowa, Sultan Alauddin juga memeluk Islam.

Ada tiga orang tokoh Islam yang berjasa membawa kerajaan besar di Sulsel memeluk Islam. Untuk di Kabupaten Maros sendiri memang mengikut setelah raja Gowa memproklamirkan kerajaannya sebagai kerajaan Islam di Sulsel. Meski pada akhirnya kerajaan Gowa Tallo dan sekutunya takluk dengan VOC tahun 1669, Islam tetap menyebar hingga ke pelosok Sulsel. (sumber detik.com)

Post a comment

 
Copyright © 2014 102,3 Maros FM, Spirit Butta Salewangang. Designed by Maros Enterprise.