NEWS

Lintas Maros

News

PROGRAM HARIAN

SKPD KAB. MAROS

Wednesday, 24 February 2021

Peduli Melawan Covid-19, Ketua Adhyaksa Dharmakarini Kejati Sulsel Kunjungi LPKA Maros

Sebagai bentuk rasa peduli melawan Covid-19, Ikatan Adhyaksa Dharmakarini Wilayah Sulawesi Selatan berkunjung ke Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II A Maros, di Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, pada senin pagi ( 24/02/21).

Dalam Kunjungan tersebut Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini Wilayah Sulsel dr. Pranamya Dewi memberikan edukasi kepada para warga binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Maros dalam mencegah penangan virus corona didalam ruang tahanan. 

Keterangan Gambar : Kunjungan Kerja Ketua Dharma Adhyaksa Dharmakarini Sulsel ke LPKA Kelas II A Maros (dok.marosfm)

Dewi mengatakan, ini merupakan program kerja sebagai bentuk rasa peduli kami terhadap warga binaan untuk memerangi atau melawan Covid-19, Dia bersama rombongan memberikan pemaparan edukasi kepada warga LPKA Maros untuk mengantisipasi paparan Covid -19 didalam lapas.

Setelah memberikan edukasi kepada Warga binaan LPKA Maros dalam memerangi virus Corona dilingkup ruang tahanan, Ketua Adhyaksa Dharmakarini Wilayah Sulawesi Selatan lalu menyerahkan secara simbolis puluhan Dus Masker, paket sembako dan santunan uang tunai. 

Sementara itu salah seorang warga binaan LPKA Maros bernama Haerul (20) mengaku sangat senang dengan pamaparan materi yang disampaikan Ketua Adhyaksa darmakarini wilayah Sulsel, dr Pranamya dewi.

Ia berharap dalam kunjungan ini saya sengat senang dengan kunjungan Ikatan Adhyaksa Dharmakarini ke dalam lapas ini, selruh penghuni lapa mendapat pengetahuan baru utamanya dalam mencegah penularan Covid-19 didalam lapas. Dimana sekarang Indonesia masih mengalami wabah pandemi dengan melakukan pencegahan virus korona didalam lapas perlu perlu di perketat lagi. (marosfm news department)

Monday, 22 February 2021

Terpilih Secara Aklamasi, Agus BJ Nahkodai Karang Taruna Maros

Temu Karya Karang Taruna Kabupaten Maros yang digelar di vila iluna Tompo Bulu Kabupaten Maros memilih secara aklamasi Agus BJ sebagai ketua Karang Taruna Maros periode 2021-2026 . 

Dari 14 kecamatan secara tegas menetapkan dukungan dan pilihan aklamasi kepada Agus BJ yang sontak membuat aula villa Iluna dipenuhi sorakan dan tepuk tangan pada Minggu kemarin, (21/2/2021).

Aklamasi ini sudah diprediksi sebelumnya karena sampai batas akhir pendaftaran calon ketua hanya Agus seorang dan 14 rekomendasi kegiatan dikantonginya. 

Hasil aklamasi ini disambut baik ketua Karang Taruna provinsi Sulawesi Selatan Farouk M. Beta sekaligus yang membawakan materi pembekalan dalam pembukaan kegiatan tersebut.

Farouk M. Beta mengatakan, Aklamasi itu sangat bagus, jangan buang tenaga untuk berdebat, kalau mau berdebat di rapat kerja katanya saat membuka acara teresebut.

Keterangan Gambar : Agus BJ (Tengah) terpilih secara aklamasi bersama seluruh pengusur KT Kabupaten Maros (dok.marosfm)

Sementara itu, bupati maros terpilih Chaidir Syam yang menutup Temu Karya ini mengatakan kepengurusan baru ini akan membawa organisasi sosial kepemudaan Ini menjadi lebih baik dan bersinergi dengan pemerintah dalam bidang sosial kepemudaan, memanfaatkan potensi desa dan kelurahan untuk melahirkan kegiatan ekonomi produktif . 

Chaidir berharap komunikasi antara karang taruna dan pemerintah setempat berjalan intensif untuk mewujudkan program program organisasi bersama pemerintah. Insya Allah pemerintah akan mendukung dan berjalan bersama karang taruna. 

Agus BJ yang sebelumnya plt. Ketua Karang Taruna Maros haru saat 14 kecamatan menyatakan sikap memberikan dukungan dan menyempurnakan pleno dengan teriakan aklamasi menunjuk dirinya sebagai ketua. 

Dirinya berjanji akan melalukan perbaikan dalam segala sektor baik pengurus yang tangguh,program hebat dan pelaksanaan program dari orang orang andal. (marosfm news department)

Nurul Falah, Masjid yang Berusia 2 Abad Menjadi Saksi Sejarah Masuknya Agama Islam di Kabupaten Maros

Setelah hampir dua abad, sebuah masjid di Maros, Sulawesi Selatan, masih tetap kokoh berdiri dan menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Kabupaten yang kini berpenduduk 399 ribu jiwa. Dulunya, masjid itu merupakan lambang kejayaan kerajaan Marusu yang menjadi cikal bakal nama Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Makassar ini.

Oleh seorang raja Marusu, Masjid yang dulunya hanya langgar itu diberi nama dengan Masjid Nurul Falah atau cahaya kemenangan. Lokasinya hanya beberapa meter dari istana kerajaan Marusu yang dikenal dengan nama Balla Lompoa di Kelurahan Baju Bodoa, Kecamatan Maros Baru, Maros, Sulawesi Selatan.

Keterangan Gambar : Masjid Nurul Falah, masjid tertua yang didirikan sejak tahun 1821 

Karena sudah tidak mampu lagi menampung jemaah yang setiap tahunnya bertambah, Masjid ini pun dipugar hingga tiga kali seperti bentuknya yang sekarang. Namun, meski telah mengalami perubahan, ornamen dan arsitekturnya masih tetap mengacu para Masjid kebanyakan di Makassar yang kubahnya berbentuk persegi empat lancip.

Raja Marusu ke-24 Abdul Haris Karaeng Sioja mengatakan, Sejak didirikan tahun 1821, masjid ini sudah tiga kali mengalami perubahan. Namun pengelola tetap mempertahankan arsitektur aslinya seperti kubah dan atap depan yang bersusun tiga seperti istana raja. Satu-satunya bangunan asli di Masjid ini adalah gerbang di pagar.

Saat masih menjadi Langgar, masjid ini berlokasi di pinggiran sungai Maros. Saat lokasi istana kerajaan Marusu dipindahkan, langgar ini katanya juga ikut dipindahkan dan menjadi sebuah Masjid pertama di kerjaan Marusu kala itu.

Satu hal yang masih terjaga hingga saat ini adalah Masjid ini menjadi tempat bermusyawarah. Dulu, raja-raja selalu bermusyawarah dengan rakyatnya di Masjid ini terkait hal-hal penting. Hingga saat ini Pemerintah setempat masih sering membuat agenda musyawarah di sini.

Seperti pada masjid-masjid tua lainnya, di belakang Masjid Nurul Falah ini terdapat kompleks pemakaman raja Marusu dan keluarganya. Ada dua raja Marusu yang dimakamkan di belakang Masjid, yakni Raja Marusu ke 17 dan 18. Makam inipun masih sering diziarahi oleh keturunan keluarga raja dan masuk dalam situs cagar budaya.

Bagi kerajaan Marusu, masjid tidak hanya menjadi tempat untuk beribadah sejak dahulu, namun juga menjadi tempat bermusyawarah untuk membicarakan hal-hal penting menyangkut hajat rakyat. Tradisi inipun masih tetap berlaku hingga saat ini. Selain itu, masjid inipun menjadi tempat pusat kegiatan Islam, mulai dari kajian hingga pembelajaran agama bagi remaja dan anak-anak.

Keberadaan Masjid ini, tidak terlepas dari keberadaan istana kerajaan Marusu . Dari beberapa literatur kuno, Kerajaan Marusu berdiri sekitar abad 15 oleh seorang raja pertama bernama Karaeng Loe ri Pakere yang dipercaya sebagai tumanurung atau orang yang turun dari langit. Kala itu, Islam baru mulai dibawa oleh para pedagang dari Melayu. Diperkirakan, Islam mulai masuk di wilayah kerajaan Marusu sekitar tahun 1596, saat Raja Marusu ke tiga yang sekaligus menjabat sebagai tu mailalalng atau menteri dalam negeri Kerajaan Gowa.

Meski begitu, dalam catatan raja Bone ke-22 yang memerintah antara tahun 1752 hingga 1762, kerajaan Bone sebelumnya sudah pernah memdirikan sebuah langgar di Marampesu yang saat ini berada di wilayah Kelurahan Boribellaya, Kecamatan Turikale, Maros. Sayangnya, masjid itu sudah tidak ada lagi. Disebutkan pula, pada tahun 1756 raja Bone menggelar salat Idul Adha di langgar yang kemudian ia bangun menjadi masjid.

Salah seorang penggiat Budaya Maros, Andi Muhammad Riza AB Berbicara sejarah masuknya Islam di Maros ini, sebelum di Kerajaan Marusu, raja Bone sudah pernah membuat langgar di Marampesu yang pernah menjadi pusat pemerintahan raja Bone. Saat era ekspansi kerajaan Gowa kepada kerajaan lain di Sulsel, Marampesu ini kemudian direbut

Menurut sejarah Islam di Maros memang tidak terlepas dari masuknya Islam di kerajaan Tallo yang kemudian secara kelembagaan membuat kerajaan Gowa berubah bentuk menjadi kesultanan pada abad ke 16 silam. Kesultanan Gowa yang merupakan kerajaan besar di Sulsel, lalu menyebar luaskan Islam ke semua kerajaan lain, termasuk kerajaan Marusu dan kerajaan Bone.

Masuknya Islam di Sulawesi Selatan, tidak terlepas dari peran para ulama dari Minangkabau yakni Datuk Sri Bandang, Datuk Patimang dan Datuk di Tiro. Ketiga orang ini pertama kalinya berhasil meng-Islamkan raja Luwu, La Patiware Daeng Parabu yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Muhammad Mahyuddin pada awal tahun 1605. Di tahun yang sama, Raja Tallo, Imalingkaan Daeng Manyonri Karaeng Katangka dan Raja Gowa, Sultan Alauddin juga memeluk Islam.

Ada tiga orang tokoh Islam yang berjasa membawa kerajaan besar di Sulsel memeluk Islam. Untuk di Kabupaten Maros sendiri memang mengikut setelah raja Gowa memproklamirkan kerajaannya sebagai kerajaan Islam di Sulsel. Meski pada akhirnya kerajaan Gowa Tallo dan sekutunya takluk dengan VOC tahun 1669, Islam tetap menyebar hingga ke pelosok Sulsel. (sumber detik.com)

Ritual Persembahan Kepada Leluhur Hingga Adu Kekuatan para Pemuda Di Tompobulu

Di Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros, tidak hanya potensi alamnya saja yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. 

Kecamatan terujung di Kabupaten Maros ini dikenal dengan puluhan air terjunnya yang cantik, ternyata tersimpan kekayaan budaya yang masih terus dilestarikan oleh masyarakatnya.

Seperti ritual tahunan yang dilaksanakan oleh Masyarakat di Dusu Bara, Desa Bontomanurung. 

Mereka mengadakan ritual persembahan makanan kepada leluhur. Makanan berupa seokor ayam kampung utuh dan songkolo (beras ketan), ada juga kapur dan sirih yang dibawa ke makam leluhur kemudian didoakan.

Daeng Nimba salah satu tetuah adat di Dusun Baru mengatakan, ritual ini merupakan pesan leluhur masyarakat Tompo Bulu yang berkata, 

“jika nanti sehabis panen maka datanglah ke sini (ke makamnya) dan berdoalah. Doamu akan saya teruskan ke sang pencipta,”.

Daeng Nimba melanjutkan, setiap keluarga akan memgantarkan satu paket persembahan makanan berupa seekor ayam kampung, kapur sirih, dan songkolo sebagai bentuk rasa syukur mereka terhadap hasil panen yang mereka peroleh. Setelah didoakan, makanan tersebut akan dibagikan kembali untuk dimakan bermai-ramai oleh penduduk kampung.

Ritual adat kemudian dilanjutkan dengan gelaran “Allanja” yaitu adu betis antara pemuda. Hal ini dilakukan dengan saling menendang betis secara bergantian.


Prosesi ini merupakan bentuk adu kekuatan diantara pemuda pengikut Karaeng Laiya dan Kareeng Baru, yang merupakan leluhur masyarat Bontomanurung.

Tak berhenti di situ, puncak rangkaian ritual adat ini masih berlanjut di malam hari dengan prosesi “Adengka Ase Lolo”. Padi muda yang barusaja dipanen ditumbuk dengan alu kemudian dinikmati bersama gula merah dan parutan kelapa muda. (marosfm news department) 

Saturday, 20 February 2021

Chaidir Syam Usul Kabupaten Maros Jadi Tuan Rumah Pra Porprov

Bupati terpilih Kabupaten Maros, H.A.S Chaidir Syam mengusulkan agar Maros menjadi tuan rumah pekan olahraga provinsi (Pra Porprov) Sulawei Selatan untuk cabang olahraga sepak
Keterangan Gambar : Bupati Maros terpilih Chaidir Syam bersama pengurus PSSI Maros saat melihat kondisi lapangan kassi kebo yang rencananya akan di usulkan sebagai tuan rumah Pra PorProv Sulse (dok.marosfm)
Saat dihubungi marofm.com, Sabtu (20/2/2021), Chaidir Syam mengatakan, Stadion Merdeka Kassi Kebo siap digunakan sebagai lokasi Pra Porprov Sulsel. Ia juga berencana akan segera  membenahi stadion tersebut.
Menurutnya Chaidir, lapangan Kassi Kebo ini merupakan icon tempat olahraga kebanggaan masyarakat Maros sehingga  akan segera memprioritaskan pembenahan stadion tersebut. 
Lanjut kata Chaidir, Stadion Kassi kebo banyak menyimpan kenangan semasa kecilnya dulu. Melihat hal tersebut dia akan turun tangan melakukan persiapan maksimal jika Maros dipercayakan sebagai tuan rumah. Bahkan, ia sudah memantau kondisi baik stadion hingga kondisi lapangan itu sendiri. 
Senada hal tersebut, Ketua Askab PSSI Maros, Yusdal Yusuf juga berharap, pada kompetisi kali ini, Kabupaten Maros dapat terpilih menjadi tuan rumah. Sebelumnya, sekretaris umum Asprov Sulsel Ahmadi Jafri, telah melakukan peninjauan lapangan terkait hal itu.
Menurut Yusdal, Lapangan Kassi Kebo yang berada di Kecamaran Maros Baru tersebut cukup layak dan bagus. Hanya saja menurutnya kebutuhan pembenahan seperti toilet, kamar ganti, tribun tertutup, dan lahan parkir harus dibenahi lebih lanjut.
Selain mengajukan diri jadi tuan rumah Pra Porprov (dahulu dikenal sebagai Porda), kata Yusdal, Maros juga saat ini sementara membangun tim dan melakukan seleksi pemain di stadion.

Sementara itu, Ketua panitia seleksi, Misbahuddin mengatakan, penjaringan akan berlangsung selama empat hari. Pelatih yang ditunjuk, bekas pemain Tim Nasional asal Maros, Denny Tarkas yang akan memilih 25 tim.
Karena ini Tim Pra Porprov, kata Misbah, maka tim yang direkrut kelahiran tahun 2000 dengan beberapa syarat lainnya, misalnya berstatus pemain amatir dan tidak terdaftar pada kompetisi PSSI Liga Indonesia.
Misbah menyebut, hingga saat ini, sudah sekitar 70 total calon pemain yang mengikuti seleksi, dan menurut perkiraan Misbah, jumlah itu masih akan bertambah. (marosfm news department)
 
Copyright © 2014 102,3 Maros FM, Spirit Butta Salewangang. Designed by Maros Enterprise.